Rabu, 06 Desember 2023

2023 dan Akhir Tahun yang Tidak Baik-Baik Saja

Detik demi detik berlalu dan tiba-tiba saja kita ada di ujung 2023.

Sebenarnya nggak tiba-tiba, hanya saja kita berhitung menit per menit, jam per jam, dan hari per hari. Lalu tiba-tiba saja waktu berlalu dengan cepat.

Menghadapi akhir tahun dengan tidak baik-baik saja rasanya lebih lelah dari biasanya. Sepertinya setiap akhir tahun aku sering merasa tidak baik-baik saja. Maybe orang-orang akan menanyakan 'what the problem?' padahal aku sendiri juga nggak tahu masalahnya apa.

Jadi untuk mengurangi sedikit rasa tidak baik-baik saja ini, aku mau mengulas apa saja yang udah aku lakuin di 2023:

1. Nonton Badminton secara Langsung for The First Time




Hal paling excited yang kulakukan di tahun 2023 adalah akhirnya aku nonton badminton secara langsung di Istora Senayan untuk pertama kalinya. Ini adalah salah satu backet list aku dari beberapa tahun yang lalu. Saat itu aku bilang ke Neni, temanku kalau aku akan nonton badminton secara langsung suatu hari nanti.

Mimpi itu akhirnya terwujud dan saat itu aku sangat senang. Sesuatu yang dulu bagiku dan Neni kayak nggak terjangkau akhirnya bisa kucapai.

2. Traveling ke Jawa Timur dan Bali


Resolusiku di tahun sebelumnya adalah aku bisa menginjakan kaki di Jawa Timur dan Pulau Bali dan ini terwujud di tahun 2023. Rasanya jika mengingat hal ini aku merasa hidupku nggak buruk-buruk amat. Meski ada banyak drama sebelum aku akhirnya ke Jawa Timur, namun aku senang akhirnya aku memberanikan diri melawan rasa takut dan kemageranku.

Apalagi cerita dari perjalananku ini bisa menghasilkan uang dari lomba. Aku dapat 2 juta dari dua lomba yang berbeda, 1 juta dari lomba ASUS dan 1 juta dari lomba Piknik Kledo.

3. Jarang Sakit Punggung


Sejak mengenal olahraga yoga, aku merasa aku jadi jarang sakit punggung. Ya meski rencana dietku masih berkali-kali gagal tapi setidaknya ada efek baik yang dirasakan oleh tubuhku. Di tahun 2023 ini aku sudah lebih jarang mengeluh sakit jika dibandingkan tahun 2022. Mungkin ini tanda dari baiknya manajemen diri yang aku lakukan.

Tentu ini hal yang harus aku syukuri dan menunjukan bahwa tahun 2023 versiku tidak buruk-buruk amat.

4. Mulai dan Rutin Skincare


Tahun 2023 ini aku juga memulai untuk merawat diri. Nggak cuma skincare, aku juga merawat rambut dan lainnya. Meski untuk kulit selain wajah ya masih mager. Aku tiba-tiba tergerak untuk merawat kulit wajah setelah merasa insecure dengan keadaan wajahku yang makin hari makin mengenaskan.

Bayangkan jika aku tambah buruk semakin bertambahnya umur nanti. Sebenernya setelah pakai skincare kulitku nggak langsung baik tapi setidaknya dengan skincarean aku bisa mengurangi kemungkinan menyalahkan diri sendiri di masa depan nanti.

Setidaknya aku sudah melakukan yang terbaik untuk merawat diri. Ya, sesimpel itu.

Setelah menulis beberapa bagian yang harusnya aku syukuri di tahun 2023 ini, aku juga akan menulis beberapa hal yang membuatku merasa gagal di tahun 2023 ini.

1. Stop Pekerjaan Freelancer


Hal pertama yang sebenernya bisa dibilang berhasil dan bisa dibilang gagal yaitu aku stop pekerjaan freelance. Aku merasa tidak baik-baik saja dengan banyaknya pekerjaan. Maybe kalau klien lama aku masih bisa menghadapi tapi untuk hire klien baru itu sangat melelahkan dan ya aku memilih untuk tidak berusaha mencari peluang baru.

Karena memilih stop pekerjaan freelance, pendapatanku jadi berkurang banyak. Sebenernya masih ada masukan tapi saat ini aku lebih mengandalkan uang dari gaji pekerjaan utama.

2. Over Gadget


Percaya atau nggak, gadget yang kumiliki lumayan banyak dan aku mau menjualnya juga bingung karena setiap gadget punya fungsi yang berbeda-beda. Maybe yang paling nggak guna adalah beli TV satu bulan yang lalu. Aku beli buat orang tuaku karena TV rusak tapi orang tuaku lebih suka TV lama yang ternyata bisa diservis.

Selain TV, beli iPhone juga nggak sesuai ekspektasi. Aku beli karena HP lamaku udah ngadat dan buat bikin konten tapi sekali lagi nggak sesuai ekspektasi. Meski pun begitu, beli iPhone nggak pernah aku sesali sih.

3. Diet yang Selalu Gagal


Adalah aku yang bertahun-tahun mencoba diet dan selalu gagal. Capek banget. Tapi ya mau menyerah juga nggak bisa dan pola pikir diet kayaknya udah tersemat di otakku. Aku sampai merasa bersalah setiap kali aku makan dengan asal.

4. Bisa Nikah Nggak Ya?


Bohong banget kalau aku bilang aku nggak galauin nikah. Aku galauin bukan karena aku merasa nggak baik-baik aja sendirian gini tapi semakin ke sini aku merasa semakin nggak normal karena belum menikah dan nggak punya gebetan apalagi pacar.

Kenapa aku merasa masih baik-baik saja? Ya karena aku nggak punya perbedaan punya pasangan dan enggak. Selama ini hidupku dihabiskan dengan menjomblo. Ketika orang tua memintaku buat nikah, ya aku juga bingung karena I'm alone. Bahkan pegangan tangan sama cowok (selain salaman dan formalitas lainnya) aku juga belum pernah. Gandengan tangan sama cowok sambil deg-degan, mana pernah!

Makin ke sini aku juga makin sulit untuk tertarik sama orang lain. Berusaha mencari juga selalu berakhir dengan misuh-misuh. Mana katanya yang orang-orang bilang, "Makanya punya pacar biar hidup bahagia." Kenyataannya nggak semudah itu, lebih besar kemungkinan ketemu orang yang nyebelin dan berakhir misuh-misuh dibandingkan langsung ketemu yang klop.

5. Makin Pesimis akan Masa Depan


Kayaknya akhir-akhir ini hidupku dihabiskan dengan risau. Mungkin bagi orang lain apa sih yang dirisaukan oleh diriku ini. Tapi buatku aku juga nggak ngerti kenapa aku harus risau dan pesimis akan masa depan.

Salah satu hal yang bikin aku pesimis adalah tentang pernikahan. Orang-orang seumuranku di kampungku ini sudah punya anak 2 dan aku masih menjomblo dengan pengalaman cinta 0 besar. Hal yang bikin aku galau bukanlah aku ingin kayak mereka tapi aku merasa aku nggak pengen menjalani hidup hanya dengan menikah dan punya anak tapi dunia menginginkan semua orang melakukan hal itu.

Orang-orang juga mulai mengenalkan sana-sini dan cowok-cowok yang kutemui bikin misuh-misuh doang. Apalagi dengan keadaanku yang gampang banget ketrigger dan nggak kuat basa-basi dengan orang yang nggak sepemikiran.

Dengan kualitas cowok-cowok yang kutemui, gimana aku nggak pesimis coba? Lalu orang-orang di sekitarku dengan entengnya bilang, "yang penting tujuan nikah itu ibadah." Belum lagi aku melihat perubahan-perubahan dalam diri teman-temanku yang udah nikah.

Waktunya full buat suami dan anak. Ada juga yang galau berat karena belum hamil. Belum isu-isu banyaknya laki-laki gay yang berkamuflase dan menikahi orang lain. Aku aja yang menghadapi cowok tolol yang introvert aja nggak tahu pengen kumaki-maki itu cowok (tapi aku tahan dan aku blokir doang).

Bahkan aku merasa aku yang dulu bangga punya otak pinter, rasanya buat nyari jodoh pinter adalah sebuah kekurangan. Dan aku juga nggak bisa pura-pura goblok dan stay calm tiap ketemu sama cowok goblok yang buat searching aja nggak mau, cowok goblok yang udah dikasih tau dengan bahasa kurang sopan aja tetep komen spam, cowok goblok yang baru kenalan udah, "boleh nelpon nggak?"

Gimana aku nggak pesimis buat nikah coba? Oh iya, cowok yang nyebut nelpon/telepon dengan 'fhon' OMG, jaman sekarang masih ada yang tulisannya alay gitu? Lalu dikenalin ke aku? Lalu setelah aku dighosting yang ngenalin bilang aku nggak mau sama itu cowok?

Lalu bapakku bilang, "Itu aja bisa dapat jodoh tanpa pacara." Dan yang disamakan oleh bapakku adalah temenku yang sebelum nikah udah dikasih mobil, dicariin kerjaan tetap, dan setelah nikah dikasih rumah tanpa harus nabung tiap bulan. Ya Allah gimana aku nggak misuh-misuh coba?

Baiklah, ternyata hal yang paling bikin nggak baik-baik saja adalah tentang tuntutan menikah. Dengan rasa pesimisku dengan laki-laki Indonesia raya ini khususnya deket-deket rumah sini, aku curiga jodohku ternyata bule.

2023 dan Akhir Tahun yang Tidak Baik-Baik Saja
4/ 5
By
Comments


EmoticonEmoticon