Sabtu, 14 Januari 2023

Jangan Sebut Nikah Muda bagi Mereka yang Menikah di Bawah Umur

pernikahan di bawah umur

Saat kamu masih duduk di bangku SMP atau SMP, pernah nggak ada teman kamu (entah satu kelas atau lain kelas) yang harus mengundurkan diri (keluar) karena hamil? Tidak selang lama dari situ, akhirnya teman kamu menikah dengan laki-laki yang menghamilinya.


Sebagian pasti pernah, bahkan itu terjadi pada orang terdekatnya. Lalu apa mereka menyebutnya? Nikah muda atau nikah di bawah umur (pernikahan anak)? Mungkin jika kita ketemu teman kita yang dulu nikah di saat masih sekolah, mereka kemungkinan akan menyebut apa yang mereka lakukan sebagai nikah muda. Padahal, apa yang terjadi pada mereka lebih tepat disebut sebagai pernikahan di bawah umur, di bandingkan nikah muda.


Berdasarkan artikel yang ditayangkan di Kumparan, nikah muda adalah mereka yang melakukan pernikahan di bawah usia 23 tahun dan lebih dari usia 19 tahun. Sedangkan pernikahan di bawah umur adalah pernikahan yang dilakukan oleh orang (baik dua-duanya atau salah satu) di usia kurang dari 19 tahun (UU Nomor 16 Tahun 2019).


Sejak disahkannya UU Nomor 16 Tahun 2019, pasangan yang akan menjalani pernikahan di bawah umur harus mendaftarkan dispensasi nikah. Harusnya dengan adanya peraturan itu, pernikahan di bawah umur bisa semakin berkurang, tapi nyatanya masih banyak pihak yang melakukan pernikahan di bawah umur, bahkan orang tua justru mengizinkan anaknya menikah daripada berzina.


Di desa tempatku tinggal sendiri sudah ada beberapa kasus pernikahan di bawah umur. Aku sempat kaget saat mendengar kabar anak cowok seumuran adikku (18 tahun) menikah tahun lalu. Aku langsung bertanya-tanya kok bisa menikah di bawah umur? Setelah mendengar cerita dari temanku (saudara di anak itu), ternyata mereka hanya nikah siri.


Well, pernikahan anak seperti ini bisa terjadi karena orang tua yang bisa dengan mudahnya mengizinkan anaknya menikah. Lagi-lagi alasan 'daripada berzina' menjadi dasar mereka mengizinkan anak-anak menikah. Apalagi jika sudah hamil, mereka seperti tidak ada pilihan lain selain menikahkan anak.


Padahal pemerintah membuat peraturan ini bukan tanpa alasan. Pernikahan anak sangatlah rentan (mengalami perceraian, KDRT, kesulitan ekonomi, risiko kehamilan), karena normalnya usia anak adalah usia untuk bermain dan belajar, bukan membangun rumah tangga. Berikut beberapa alasan mengapa pernikahan anak ini sebaiknya tidak terjadi:


Anak Tidak Memahami Apa Itu Pernikahan


Apakah anak-anak memahami apa itu pernikahan? Mungkin ada yang paham, tapi sebagian besar tidak. Di usia remaja anak-anak biasanya baru mengalami jatuh cinta untuk pertama kalinya. Kita yang saat ini sudah dewasa pasti pernah mengalami 'cinta monyet' ini.


Cinta yang kayaknya isinya indah-indah doang. Pengen ketemu terus sama si dia. Jadi, ketika bayangin bisa hidup serumah sama dia dan menjadi pasangan sah, rasanya pasti membahagiakan. Apalagi jika bisa melakukan hubungan seksual dengan dia, wooowww! Bisa ciuman, pelukan, hingga have sex pasti sangat membahagiakan.


Saat aku di usia remaja, aku tidak sampai membayangkan ke sana. Aku bahkan tidak mengerti bagaimana have sex ketika sudah ada teman-teman seusiaku yang hamil di luar nikah. Tapi tidak mengingkari jika anak-anak sekarang banyak yang pikiran mereka sudah jauh, mengingat saat ini semua anak memiliki smartphone dan bebas mengakses apapun yang mereka mau.


Lihat saat di Wattpad, ada banyak cerita vulgar yang ternyata penulisnya berusia di bawah umur. Cerita yang benar-benar vulgar sampai aku orang yang dewasa tidak menyangka mereka bisa menulis seperti itu.


Mereka tidak paham bahwa pernikahan itu bukan hanya tentang bersama dia selamanya dan bisa have sex sama dia. Memang aku belum menikah, tapi hampir setiap sharing sama teman yang sudah menikah mereka mengatakan sex itu hanya bagian kecil dari pernikahan.


Apakah anak-anak paham bahwa menikah itu memiliki tanggung jawab besar lebih dari have sex? Tentu, tidak. Pengetahuan sex mereka pastinya hanya sebatas pelajaran di sekolah yang kadang hanya sepintas dan video porno. Bahkan banyak dari mereka yang tidak paham dengan risiko sex.


Inilah alasan mengapa pernikahan tidak boleh dilakukan di bawah umur. Secara pengetahuan, anak-anak tidak mengetahui menikah itu seperti apa. Mereka hanya mengetahui gambaran manis dari pernikahan, padahal menikah itu nggak semuanya manis.


Selain itu, secara emosi mereka sangat jauh dari kata mumpuni. Jangankan untuk menghadapi pasangan dan anak yang lahir dari pernikahannya, buat mengenal diri sendiri saja tidak paham. Mereka masih butuh banyak waktu untuk belajar, makanya mereka diharuskan bersekolah, bukannya menikah.


Rentan Mengalami KDRT


Alasan kedua adalah pernikahan anak rentan mengalami KDRT atau Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Selain karena emosi mereka yang belum stabil, pengetahuan mereka tentang KDRT juga masih minim.


Aku selalu bilang ke teman-temanku bahwa mengetahui pengetahuan terkair KDRT jadi poin yang harus disiapkan sebelum menikah. Kita yang belum menikah ini wajib tahu apa saja yang masuk ke dalam kategori KDRT dan bagaimana bersikap terhadap KDRT-- baik saat mengalami atau melihat kejadian KDRT.


Karena banyak yang tidak memahami KDRT. Banyak orang yang menganggap KDRT adalah ketika suami atau istri melakukan kekerasa fisik. Jadi, ketika ada kekerasan psikis dalam rumah tangga, mereka menganggap itu bukan KDRT.


Apakah anak-anak memahami KDRT ini? Jangankan anak-anak, orang yang menikah usia dewasa saja banyak yang tidak paham. Anak-anak di bawah usia 19 tahun masih terbatas untuk pengetahuan. Mereka biasanya dapat ilmu pengetahuan dari sekolah dan nggak banyak di antara mereka yang suka baca buku.


Jika dibandingkan dengan mereka yang sudah berusia di atas 23 tahun, pengalaman orang di usia 23 tahun pastinya lebih banyak.


Kesulitan Ekonomi? Pasti!


Berharap pernikahan anak berkecukupan ekonomi? Nggak mungkin! Anak remaja adalah usia anak sekolah dimana tugas utama mereka adalah belajar, bukan bekerja. Pada akhirnya mereka yang menikah di usia anak akan menggantungkan kebutuhan ekonomi ke orang tua.


Jangankan tempat tinggal sendiri, penghasilan aja nggak ada. Biasanya setelah menikah, pihak perempuan akan berhenti sekolah dan ya menjadi ibu rumah tangga (jadi apa lagi?). Dia akan tinggal di rumah ketika hamil sampai melahirkan. Jika anak sudah lahir, biasanya baru sadar biaya kebutuhan dan mulai jualan online atau jadi TKW. Anak ditinggal bersama orang tua pihak perempuan.


Sedangkan pihak laki-laki juga akan berhenti sekolah. Dia dipaksa untuk bekerja padahal usianya bukan usia produktif kerja. Bekerja tanpa kemampuan, apa yang bisa diharapkan? Palingan dia bisanya kerja menjadi kuli atau kalau beruntung bisa menjadi OB atau waiters. Di saat yang sama kebutuhan rumah tangganya semakin banyak. Istrinya hamil dan harus mempersiapkan kelahiran si kecil.


Si laki-laki ini mulai merasa beban yang ditanggung akan semakin besar. Ia kaget. Apalagi saat melihat teman-teman seumurannya masih haha-hihi kesana-kemari dengan bebas, ia merasa hidupnya sudah terkekang. Lalu, apa lagi jika bukan pertengkaran dengan istri dan bisa berakhir KDRT.


Risiko Kehamilan dan Reproduksi


pernikahan anak


Hamil adalah hal normal yang bisa terjadi pada mereka yang melakukan hubungan seksual tanpa kontrasepsi. Buat pengguna Twitter pasti sudah tidak asing dengan kalimat, "Emang apa yang bisa diharapkan dari hubungan seksual tanpa pengalaman selain bayi? Tabung gas elpiji?"


Banyak dari anak-anak yang tidak paham bagaimana seorang perempuan bisa hamil. Oke, mereka mungkin paham hamil adalah hasil dari hubungan seksual? Tapi apakah mereka paham risiko kehamilan yang mengintai mereka yang berusia di bawah umur? Enggak!


Buat kamu yang nonton film Dua Garis Biru pasti sedikit paham bahwa di usia remaja perempuan belum siap untuk hamil. Tubuhnya belum siap untuk hamil, jadi banyak risiko yang bisa dialami. Misalnya saja kelahiran prematur, preeklamsia, berat badan bayi rendah, hingga risiko kematian ibu dan bayi.


Anak remaja yang menjadi ibu juga rentan mengalami depresi. Sesuatu yang seharusnya tidak dialami jika tidak menikah di bawah umur. Risiko kanker serviks juga meningkat buat mereka yang melahirkan di bawah umur.


Risiko pada Anak yang Lahir di Pernikahan Anak


Anak tidak bisa memilih lahir dari orang tua mana, termasuk orang tua yang menikah di usia anak. Istilahnya anak-anak yang punya anak. Menjadi anak yang lahir dari orang tua yang belum siap adalah kesialan tersendiri. Oke, sebut saja takdir namun itu takdir yang sial.


Bayangkan kamu lahir dari orang tua muda yang berisiko KDRT, memiliki mental belum siap, ibu yang tidak tahu apa-apa, dan juga miskin. Jika beruntung kamu punya kakek-nenek yang kaya. Bayi yang lahir dari pernikahan di bawah umur rentan menjadi korban dari ketidaksiapan orang tuanya.


Hal pertama yang akan berpengaruh adalah mental. Kedua, keselamatan diri. Ibu yang masih muda dan tidak tahu apa-apa lebih berisiko mencelakai bayinya sendiri. Misalnya saat anak demam, ibu yang tidak tahu apa-apa berkemungkinan salah melakukan perawatan dibandingkan ibu yang berusia dewasa.


Anak-anak yang lahir dari orang tua remaja juga berkemungkinan hidup dengan tidak sejahtera. Banyak di antara mereka yang harus diasuh orang lain karena ibunya harus bekerja di luar negeri. Anak-anak seperti ini tidak seharusnya hidup menderita, tapi karena mereka lahir dari orang tua yang tidak kompeten, mereka harus lahir dengan membawa beban seberat itu.


Aku yakin di dunia ini tidak ada orang tua atau kakak yang ingin keluarganya menikah muda (ini cuma ada di Wattpad dan film). Keluarga pasti menginginkan anak atau adik mereka bisa meraih cita-cita dan mandiri. Aku pun demikian.


Tapi sebagai orang yang ada di luar anak remaja itu, kita nggak bisa memantai anak remaja selama 24 jam. Jika kita terlalu posesif justru juga nggak baik buat si anak. Tapi sejauh ini aku sudah melakukan beberapa hal ke adikku yang kini berusia 19 tahun. Berikut beberapa hal yang kulakukan ke adikku tersebut:


  1. Alih-alih menasehati, beri remaja tanggung jawab. Misalnya adalah melindungi diri sendiri adalah tanggung jawabnya. Memang keluarga bisa membantu, tapi nggak bisa seutuhnya. Tanggung jawab penuh tetap ada pada orang yang bersangkutan.
  2. Sex sebelum waktunya (hingga hamil) akan menghancurkan masa depan. Jadi nggak bisa sekolah dan harus mengubur impian berkuliah dan bekerja selayaknya orang-orang pada umumnya. Jika itu terjadi yang paling rugi ya diri sendiri. Keluarga hanya bisa membantu sebisanya, yang merasakan sedih dan sakit saat itu terjadi ya diri sendiri.
  3. Bangun kedekatan hingga anak atau adik bisa leluasa bercerita ke keluarga.
  4. Pantau media sosial anak atau adik. Jika ada yang mencurigakan, lakukan pendekatan.
  5. Lakukan obrolan tentang cita-cita sesering mungkin.

Jangan Sebut Nikah Muda bagi Mereka yang Menikah di Bawah Umur
4/ 5
By
Comments


EmoticonEmoticon