Kamis, 12 Januari 2023

Kemiskinan dan Nikah Muda: Dua Hal yang Saling Berhubungan

Nikah muda
Dua Garis Biru from Pinterest



Siang tadi, seorang teman tiba-tiba chat aku dan bilang, “Mbak, emang ini suami Mbak ini ya?” Tanyanya dengan mengirimkan sebuah foto. Well, aku emang mengenal Mbak yang fotonya dikirimkan oleh temanku tersebut dan aku tahu laki-laki yang ada difoto bersamanya tersebut bukan suaminya.

I know banget Mbak ini nikah muda bahkan di bawah umur. Di usianya yang kurang-lebih sama kayak aku dia udah punya dua anak dan maafnya sangat kekurangan dalam keseharian. Sebagai orang yang menghabiskan hidup untuk berjuang demi kehidupan yang lebih baik di masa depan, aku cukup kaget ketika melihat realita ada kehidupan perempuan seusiaku yang menjalani hidup - maaf - kuno banget: nikah muda dan terjebak dalam kemiskinan.

Ini yang membuatku sering bilang ke mereka yang usianya di bawahku: Jangan nikah dulu, apalagi kalau kamu masih miskin. Raih cita-cita dulu dan perbaiki perekonomian, nggak usah muluk-muluk keluarga, perbaiki aja perekonomian diri sendiri. Bahagiakan diri sendiri dan puaskan diri sendiri dengan banyak pengalaman. Ada banyak hal penting yang bisa dilakukan dibandingkan hanya nikah.

Aku selalu mengira semua perempuan sedang memperjuangkan masa depan yang lebih baik sepertiku. Kukira semua perempuan tertarik sekolah dan kerja sepertiku, sampai aku mengabaikan kalau masih ada perempuan (bahkan di sekelilingku) yang nikah muda dan maaf — berkekurangan. That’s so sad, you know.

Aku tidak mau nge-judge bahwa setiap perempuan yang menikah muda (terlebih dari keluarga kurang mampu) tidak bahagia. Tapi kenyataannya memang demikian. Nikah muda dan kemiskinan selalu berhubungan erat. Terlebih bagi mereka yang nikah di bawah umur, bukan lagi kemiskinan yang mengintai mereka tapi juga kegagalan pernikahan.

Seharian aku memikirkan keadaan si Mbak ini (yang sebetulnya nggak perlu dipikirkan sih, wkwk) hingga barusan aku nonton review film Argantara. Film yang menurut Cine Crib sangat buruk karena nggak peka akan isu saat ini. Film yang justru meromantisasi nikah muda, di saat negara lagi berupaya mengurangi angka pernikahan di bawah umur.

Nonton review film ini berlanjut ke Channel Kepin Helmi, dimana dia bilang, “Kayaknya kalau orang kaya sangat kecil kemungkinan menikahkan anaknya di usia muda, orang kaya kok mainset-nya kayak menengah ke bawah.

Karena itu, akhirnya aku tertarik menulis ini. Setelah sekian lama blogku nggak diisi akhirnya ada isinya lagi, wkwk.

Nikah Muda VS Nikah di Bawah Umur


Sekitar 10 tahunan yang lalu, saat aku masih umur belasan, aku sama seperti remaja pada umumnya. Aku menganggap pernikahan adalah sesuatu yang menyenangkan. Iya, dong! Bisa hidup bersama orang yang aku cintai dan bebas ngapa-ngapain secara halal, pasti menyenangkan.

Aku memiliki pemikiran tersebut, karena aku masih mengkonsumsi film-sinetron yang meromantisasi pernikahan muda, bahkan pernikahan di bawah umur. Aku yang masih remaja mana paham kalau nikah itu nggak cuma sekadar hahahihihuhuhehe. Untungnya, saat itu aku juga mengkonsumsi film-drakor tentang impian yang bikin aku lebih kuat mempertahankan cita-cita daripada cinta (karena nggak punya pacar juga, wkwk).

Saat kuliah, dunia maya heboh dengan pernikahan Alvin Faiz dimana saat itu usianya masih 17 tahun. Di saat banyak orang heboh dan merasa ikut baper, aku justru memandang sinis apa yang dilakukan Alvin Faiz ini. Aku sinis karena menganggap Alvin bisa nikah muda dengan lancar jaya karena finansial yang baik.

Hingga beberapa tahun ini, aku sadar nikah muda (terlebih di bawah umur) baik atau buruk bukan karena faktor finansial. Orang kaya nikah muda, bisa bahagia. Sedang orang miskin, sengsara. Ternyata nggak sesederhana itu, mau kaya atau miskin, nikah muda itu berpotensi besar untuk gagal. Contoh saja Alvin yang akhirnya cerai dan ngedrama dengan nikah sama mantan istri temannya.

Saat itu aku juga paham kalau nikah muda dan nikah di bawah umur itu dua hal yang berbeda. Nikah muda dalam pernikahan yang dilakukan di usia yang masih muda (di bawah 24 tahun, menurutku) tapi sudah di atas umur legal yang diperbolehkan negara. Sedangkan nikah di bawah umur adalah pernikahan yang dilakukan di umur yang belum diperbolehkan oleh negara. Di Indonesia, umur legal untuk menikah bagi perempuan dan laki-laki adalah 19 tahun.

Apakah semua orang yang menikah muda jadi miskin? Enggak juga! Banyak kok mereka yang nikah di usia 20 tahun tetap kaya karena emang dari sononya udah kaya atau suaminya kaya-raya. Tapi kalau dibilang nikah muda itu aman-aman aja untuk mental, pasti bohong banget itu. Udahlah, pokoknya nikah muda itu banyak negatifnya dibandingkan positifnya.

Romantisasi Pernikahan di Bawah Umur, Stop That!


Beberapa tahun ini aku sering membaca konten-konten tentang isu-isu sensitif perempuan-pernikahan hingga kekerasan seksual. Ada banyak orang yang mulai mengkampanyekan untuk stop meromantisasi beberapa hal: mulai dari kelainan seksual (seperti dalam film Fifty Shades of The Grey), hingga pernikahan di bawah umur.

Dari sini aku mulai belajar, ternyata ketika kita nggak meromantisasi hal-hal di kehidupan kita, semuanya akan terasa biasa aja. Aku yang di usia remaja banyak mengonsumsi film-film romansa menghabiskan hidupku dengan pikiran kalau di hidupku akan ada laki-laki yang cinta sama aku kayak di drama Korea.

Kenyataannya, tanpa laki-laki yang cinta dan bersikap romantis aku bisa kok hidup dengan baik. Aku bahkan pernah menyukai cowok dengan cara berlebihan karena aku kemakan romantisasi film dan drakor. Di umur ini, aku sadar banget kalau ternyata kehidupan nyata itu beda sama fiksi dan stop meromantisasi.

Jika ada cewek-cewek usia muda yang heboh dan bilang baper karena liat pernikahan orang lain, aku cuma bisa merespons dengan huh. Ketika kita di usia yang dewasa, kita tahu bahwa pernikahan itu bukan sesuatu yang cuma ada enaknya. Pernikahan bukan sesuatu yang seharusnya membuat kita teriak histeris baper dan pengen nikah, tanpa melihat kesiapan diri sendiri.

Apalagi jika itu pernikahan di bawah umur. Dalam review Cine Crib, Bang Rasyid mengatakan dengan sangat serius bahwa film Argantara itu buruk banget, karena dia meromantisasi pernikahan di bawah umur yang jelas-jelas dilarang oleh negara.

Dampak buruknya dari romantisasi ini lewat film, banyak anak muda yang jadi pengen nikah muda. You know-lah, mereka yang histeris dan baper di acara nikah adalah anak-anak muda yang belum merasakan quarter life crisis. Mereka yang masih punya banyak waktu buat berkembang, tapi menyia-nyiakannya karena kemakan romantisasi pernikahan yang dibawa lewat film.

Ya, emang seserius itu. Mereka yang harusnya bisa menjadi penulis sukses, penyanyi terkenal, desainer handal, hanya menjadi manusia biasa yang ada di ikatan pernikahan. Kelebihan mereka ‘cuma’ punya suami atau istri.

Udah Miskin, Nikah Muda: Mau Jadi Apa?


Aku yakin jika 10 tahun yang lalu, ketika lulus SMA aku memutuskan menikah— entah dengan siapa tapi yang pasti bukan orang kaya — pasti aku tidak akan jadi seperti sekarang. Aku tidak akan menjadi penulis artikel dan menuliskan artikel ini di blog pribadi. Aku juga tidak akan bisa bilang bahwa aku benar-benar bahagia dan puas dengan hidupku sekarang.

Mungkin saat ini aku sedang berada di rumah sembari menidurkan anak dan mikirin besok masak apa padahal harga cabe masih mahal banget. Aku udah punya 2 anak tapi masih ngontrak. Hal yang bisa kulakukan adalah jualan online. Apapun aku posting di Facebook biar bisa dapat duit.

Aku tidak mengatakan bahwa kehidupan seperti penggambaranku tersebut buruk, tapi jelas itu bukan hidup yang aku impikan. Memang, menurut sebagian orang saat ini aku merana karena belum nikah, tapi aku bahagia.

Aku di usia yang muda ini bisa mandiri secara finansial. Aku mengakui diriku bisa dan berpotensi dimana untuk bisa mencapai hal tersebut, aku butuh waktu lama. Aku pernah insecure banget dan merasa tidak layak. Bayangkan dong misalnya saat itu aku memutuskan nikah (saat masih insecure) apa nggak tambah dark hidupku?

10 tahun yang lalu aku miskin— anak lulusan SMA punya apa dan bisa apa sih? — aku juga dari keluarga yang kurang mampu. Jika saat itu aku memutuskan menikah, aku jadi apa? Udah miskin, eh nikah muda, apa sih yang bisa aku capai?

Aku sering bilang ke teman-teman perempuan: Jangan menikah sebelum selesai sama diri sendiri. Pernikahan itu bisa menjadi penghalang untuk berkembang, bagi orang yang emang belum mengembangkan diri.

Banyak orang yang mengelak ketika dibilang nikah itu menghalangi karier perempuan, katanya perempuan tetap bisa berkarier meski udah nikah, Nikah nggak akan jadi penghalang. Oke, aku terima opini tersebut.

Tapi kenyataan di lapangan nggak begitu. Sebagian besar perusahaan (hampir semua) berpikir ulang bahkan dengan jelas menuliskan di persyaratan untuk perempuan yang sudah menikah. Jika ada yang belum menikah, perusahaan lebih memilih perempuan tersebut untuk jadi karyawan.

Kenapa? Karena drama perempuan yang sudah menikah itu banyak. Menikah artinya sebentar lagi akan hamil — perusahaan harus memberikan cuti hamil dan melahirkan. Belum lagi ketika sudah punya anak, prioritas perempuan itu berubah banget, bukan lagi pekerjaan di nomor satu. Belum lagi kemungkinan untuk resign ketika ada masalah pada kehamilan.

Itu buang-buang waktu dan uang memilih perempuan menikah untuk jadi karyawan. Jadi, mereka yang bilang pernikahan nggak menghambat karier, ya silahkan aja. Toh, kenyataannya berkata lain.

Jadi, jika masih miskin dan nikah muda, mau jadi apa? Ya, jawabannya mau jadi suami atau istri, kemudian menjadi orang tua. Untuk menjadi mapan secara finansial oleh kerja keras sendiri, ya nggak usah halu!







Kemiskinan dan Nikah Muda: Dua Hal yang Saling Berhubungan
4/ 5
By
Comments


EmoticonEmoticon