Minggu, 19 Juni 2022

Rasa Insecure, Bagaimana Cara Aku Menghadapinya?



Bertahun-tahun yang lalu, aku membenci diri sendiri. Bagiku, membenci diri sendiri ini adalah hal yang sangat berat, karena bagaimana pun dan sebenci apapun aku ke diri sendiri, aku tidak bisa lepas dari diri sendiri. Baik saat hidup ataupun nanti ketika telah mati, aku akan tetap menjadi diriku sendiri yang seperti ini.


Aku pernah menganggap menjadi diriku sendiri adalah vonis yang nggak bisa ditawar lagi. Tidak bisa banding. Jika ada orang lain yang membenciku, aku akan bilang (ke diri sendiri sih): kamu benci aku? Aku lebih benci diriku sendiri.


Bagiku masa-masa itu adalah masa-masa paling gelap di hidupku. Satu-satunya yang membuatku bertahan saat itu adalah menulis. Dulu aku menyemangati diri sendiri karena di masa depan aku bisa jadi penulis sukses. Jika aku down dan keinginan untuk mati muncul di pikiran, aku bilang ke diri sendiri, "kamu nggak boleh menyerah, kamu harus jadi penulis sukses di masa depan."


Jika kupikir-pikir lagi, aku merasa aku sok kuat banget saat itu, tapi buktinya itu bisa membantuku bertahan dan aku yang saat ini sangat berterima kasih dengan diriku di masa lalu. Sekarang, aku bisa menghadapi rasa insecure itu dan lebih mencintai diri sendiri. Bagiku ini adalah sebuah prestasi. Jadi, untuk membagikan pengalamanku ini, aku menulis di sini.


Buat kamu yang sedang berjuang melawan insecure, kamu tidak sendiri.


Dimulai Saat SMP


Percaya atau enggak, saat pertama kali masuk SMP aku manusia yang sangat percaya diri. Aku tidak segan mendekati teman dan ngobrol banyak dengannya. Ketika aku ngajak bicara seseorang aku tidak terlalu memikirkan apakah dia nyaman atau enggak, pokoknya SKSD dulu.


Jika mengingat itu aku geli sendiri. Bisa-bisanya aku sepede itu sama orang yang baru dikenal, wkwk. Hingga akhirnya di masa itu aku mulai mendapatkan penolakan satu per satu. Bukan dengan omongan secara langsung, tapi dengan memandangku jijik-merendahkan-menyepelekan.


Ada juga yang melihatku dengan lirikan dan nggak mau ngobrol sama aku. Bahkan di masa itu aku kesulitan mencari teman untuk kerja kelompok karena nggak ada yang mau satu kelompok sama aku. Saat di ruangan komputer aku tidak mendapatkan teman untuk berbagi komputer, jadi di saat yang lainnya berpasangan, aku hanya sendirian.


Dari saat itulah rasa insecure dalam diriku muncul. Setiap kali aku ingin bicara dengan teman sekelas, mereka melengos dan tertawa dengan teman grup mereka. I hate that. Belum lagi perlakuan guru yang diskriminasi dimana guru-guru hanya memprioritaskan mereka yang mereka anggap pinter.


Saat itu aku masuk kelas unggulan dimana isinya murid-murid dengan nilai terbaik dari satu angkatan dan fuck aku jadi salah satu yang nggak dianggap. Jujur kukatakan, teman-teman di kelasku sangat nggak asyik. Sombong. Suka memandang orang lain dengan rendah. Hanya mau berteman dengan geng mereka.


Aku hanya berteman dengan murid yang sama-sama terbelakang dan itu jadi kenangan yang saat ini sering kami tertawakan. Karena pengalaman menyebalkan-gelap-gulita ini aku tidak suka dengan orang-orang yang pintar. Aku enggan masuk IPA dan akhirnya membuatku jadi anak IPS padahal sejak SD aku lebih suka pelajaran IPA dan Matematika.


Aku dan Menulis yang Menyelamatkanku


Saat SMP adalah masa-masa terberat dan di masa itulah aku mengenal dunia nulis untuk pertama kalinya. Saat itu aku menulis dengan tujuan agar aku bisa menjadi orang lain. Saat itu aku sangat benci sama diri sendiri sampai aku berharap bisa keluar dari diri sendiri meski hanya lewat imajinasi.


Sampai akhirnya pelan-pelan menulis berubah menjadi sebuah impian: aku ingin menjadi penulis. Aku mulai menulis cerita dengan lebih rajin dan saat itu aku mulai mendapatkan pembaca dari teman-teman selain kelasku.


Ya, emang saat itu aku nggak punya teman di kelasku (kelas unggulan) tapi aku punya banyak teman di luar kelasku itu. Aku hanya ke kelas saat jam pelajaran. Sebelum bel masuk berbunyi, aku akan berada di kelas lain dan saat istirahat aku juga akan berada di kelas lain.


Dulu kupikir aku memang tidak suka di kelas sendiri, tapi ternyata itu dikarenakan aku tidak merasa nyaman berada di kelas sendiri. Teman-teman lain kelas lebih menghargaiku dan mau membaca tulisan-tulisanku, padahal di kelas sendiri aku sempat dibilang: kamu aneh banget sih nulis.


Saat itu aku pertama kalinya menemukan tujuan hidup: aku ingin jadi seorang penulis. Sebuah impian yang hanya aku pemiliknya dari seluruh angkatan di sekolah (setahuku gitu) dan aku yakin nggak ada yang menggilai nulis lebih dari aku di sekolahku saat itu.


Menghadapi Insecure secara Perlahan


Insecure adalah tentang menerima diri sendiri. Aku yang dulu membenci diri sendiri, perlahan mulai menerima diri sendiri karena ada alasan yang membuatku akan bertahan. Aku menerima diri sendiri karena aku bisa nulis, di saat yang lainnya tidak bisa. Bahkan saat itu aku berhasil membuat teman-temanku tertarik untuk nulis.

Kamu yang sedang menghadapi rasa insecure jangan meminta diri sendiri untuk langsung menghilangkan perasaan itu, tapi beri waktu agar diri sendiri bisa menghadapinya secara perlahan. Kita pasti akan menemukan kekuatan dalam diri kita jika memang kita benar-benar mencarinya.


Setelah mendapatkan kekuatan untuk bertahan dengan menulis, aku kembali mencari kekuatan lain yang membuatku lebih menerima diri sendiri yakni dengan menjadi siswa berprestasi. Saat itu aku berjuang agar mendapatkan juara kelas, bahkan juara umum. Selain alasan hadiah yang menyemangatiku, aku menginginkannya karena itu bisa membantuku untuk lebih percaya diri.


Patah Hati dan Rasa Percaya Diri yang Hilang


Tahun 2017 aku pernah merasa sangat percaya diri karena saat itu aku menjadi peserta PIMNAS, wkwk. Rasa percaya diriku ini nggak aku katakan ke orang lain tapi untuk diriku sendiri. Aku percaya diri aku punya nilai yang akan dipertimbangkan oleh orang lain.


Aku suka sama seseorang dan aku percaya diri orang itu akan menyukaiku balik karena aku punya nilai. Tapi jeng... jeng... dia tidak menyukaiku. Akhirnya aku tahu nilai dalam diri seseorang tidak bisa menjadi tolak ukur akan disukai atau tidak. Bukan berarti nilai itu cuma bagian dari narsisme, tapi setiap orang punya cara pandang masing-masing.


Memang aku punya nilai dan kelebihan di dalam diriku, tapi belum tentu itu menarik bagi orang lain. Saat itu aku belum tahu hukum tentang sudut pandang ini, jadinya aku kembali insecure. Rasanya kayak aku udah ngumpulin semua rasa percaya diriku bertahun-tahun dan seketika semuanya hilang dalam sekejap.


Hilangnya rasa percaya diriku semakin parah dengan omongan orang-orang di sekelilingku. Mereka memintaku berubah. Mereka memintaku intropeksi diri. Mereka memintaku jadi orang yang lebih baik.


Damn! Aku bingung gimana cara mengubahnya. Aku tidak bisa berubah. Aku sudah melakukan yang terbaik. Akhirnya aku sadar inilah diriku dan aku nggak harus berubah demi orang lain. Kalau orang tersebut benar-benar menyayangiku, dia pasti punya cara pandang lain yang akan membuatku menarik di matanya. Bukan malah memintaku berubah untuk mewujudkan ekspektasinya.


Menghadapi Insecure Adalah Tugas Seumur Hidup


Saat ini aku sudah mencintai diri sendiri. Aku sudah tahu nilai dalam diriku yang akan membuatku lebih menghargai diri sendiri. Aku juga sudah punya cara untuk bertahan dengan diri sendiri. Bahkan, aku sudah tahu kelebihan dan kekuranganku. Tapi tetap saja aku masih insecure.


Menghadapi rasa insecure adalah tugas seumur hidup. Terlebih di masa depan aku bisa saja bertemu dengan manusia-manusia yang akan menghidupkan sel insecure yang ada di dalam diriku. Meskipun begitu, buat aku yang sudah berdamai dan cinta sama diri sendiri, aku tidak akan menyalahkan diri sendiri lagi.


Jika ada yang menghinaku, aku katakan ke diri sendiri itu bukan salahku. Mereka yang jahat. Jika ada yang tidak menyukaiku, aku akan bilang ke diri sendiri kalau mereka bukan untukku. Jika ada yang menyepelekanku aku bilang ke diri sendiri tidak apa-apa, mereka bukan siapa-siapa.


Aku tidak akan membiarkan orang lain melukaiku lagi. Aku tidak akan memberikan ruang bagi orang jahat untuk mempengaruhi hidupku lagi. Dan buat kamu yang tanpa sengaja pernah menyakitiku dan membuatku insecure, aku sudah memaafkanmu.


Memaafkan orang yang telah menyakitiku memang nggak mudah, tapi jauh-jauh lebih nggak mudah untuk memaafkan diri sendiri. Dan ini akan jadi tugas seumur hidup.


Rasa Insecure, Bagaimana Cara Aku Menghadapinya?
4/ 5
By
Comments


EmoticonEmoticon